Permasalahan Land Use di Kawasan Perkotaan Bondokenceng
- 7 Jul 2015
- 1 menit membaca
Sebagai pusat dari Kota Kendal, kawasan Perkotaan Bondo Kenceng tidak terlepas dari adanya permasalahan. Permasalahan tersebut diantaranya adalah keberadaan lahan terbangun yang tidak sesuai lokasinya dan terpusatnya pembangunan di kawasan Perkotaan Bondo Kenceng. Terdapat 20% kawasan terbangun dari 100% kawasan terbangun yang berada di kawasan Perkotaan Kendal dan sisanya tersebar di seluruh Kabupaten Kendal. Hal ini dapat mengakibatkan peningkatan mobilisasi dari luar kawasan menuju kawasan Perkotaan Bondo Kenceng untuk mendapatkan kebutuhan akan barang dan jasa yang lebih banyak tersedia di Perkotaan Bondo Kenceng. Hal ini memberikan dampak terhadap penyediaan infrastruktur jalan. Selain itu, kawasan terbangun di pusat kota yang sudah dapat diprediksi bahwa jenis penggunaan lahannya adalah berupa lahan untuk kawasan perdagangan dan jasa sehingga memicu masyarkat untuk tinggal dengan alasan keterjangkauan akan kawasan komersil. Sebagai wadah aktivitas utama masyarakat, lahan permukiman semakin dibutuhkan. Banyak terjadi konversi lahan pertanian ke lahan permukiman untuk menampung masyarakat yang membutuhkan tempat tinggal.
Pada Kawasan Perkotaan Bondo Kenceng, terdapat 7.268.633 m2 lahan terbangun termasuk permukiman yang dibangun pada daerah rawan banjir, seluas 2.251.507 m2 lahan terbangun berada di kawasan non budidaya dan seluas 1.851.652 m2 lahan terbangun yang berada di sempadan sungai. Lahan terbangun yang berada di daerah rawan banjir dapat mengakibatkan kerugian yang besar. Setiap tahun di daerah pesisir Kabupaten Kendal mengalami peristiwa banjir rob yang disebabkan karena pasang surut air laut dan juga curah hujan yang tinggi sehingga peristiwa ini tidak dapat dihindari. Kerugian yang ditimbulkan mengacu kepada beberapa aspek seperti aspek sosial, kelembagaan, kependudukan dan aspek ekonomi.






Komentar